Dalil-Dalil
Keberkahan Hujan
Allah
ta’ala berfirman :
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا
“Dan
Kami turunkan dari langit air yang diberkahi (mubaarak)…” [QS.
Qaaf : 9].
Yaitu
: Banyaknya kebaikan dan barakah.[1]
Allah
jalla wa ‘alaa juga berfirman :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ
“Jika
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”
[QS. Al-A’raf : 96].
Berkata
Ibnu Katsir rahimahullah :
أي قطر السماء ونبات الأرض
“Yaitu
hujan dari langit dan tumbuh-tumbuhan di bumi”.[2]
Al-Imam
Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu
Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam, beliau bersabda :
((ما أنزل الله من السماء من بركة إلا
أصبح فريق من الناس بها كافرين. ينزل الله الغيث فيقولون : الكوكب كذا وكذا)) وفي
رواية : ((بكوكب كذا وكذا)).
“Tidaklah
Alah menurunkan berkah dari langit melainkan ada sekelompok manusia yang menjadi
kafir. Allah menurunkan hujan, lalu mereka berkata : ‘Bintang ini dan itu’
–
dan dalam riwayat lain : - dengan sebab bintang ini dan itu”.[3]
Keberkahan
Hujan dan Manfaatnya
Di
antara keberkahan hujan adalah manusia dapat minum darinya, serta hewan-hewan
ternak dan melata. Ia juga dapat menumbuhkan buah-buahan, pepohonan, dan
rerumputan.
Oleh
karena itu, air dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup sebagaimana firman Allah
ta’ala :
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا
يُؤْمِنُونَ
“Dan
dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada
juga beriman?”
[QS. Al-Anbiyaa’ : 30].
Al-Imam
Ibnu Jariir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya mengenai ayat
ini :
وأحيينا بالماء الذي ننزله من السماء كل شيء
“Dan
Kami (Allah) menghidupkan segala sesuatu dengan air yang Kami turunkan dari
langit”.[4]
Maka,
hujan bermanfaat bagi manusia dalam banyak kebutuhan hidup mereka.
Allah
tabaaraka wa ta’ala telah mensifatkan manfaat dan keberkahan turunnya
hujan kepada makhluknya sebagai satu nikmat pada banyak ayat dalam Al-Qur’an
Al-Kariim. Di antaranya adalah firman Allah ta’ala :
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ
شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ * يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ
وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي
ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dia-lah,
Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi
minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat
tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.[5] Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air
hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi
kaum yang memikirkan”
[QS. An-Nahl : 10-11].
Juga
firman-Nya :
وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ
رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا * لِنُحْيِيَ بِهِ
بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا
* وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلا
كُفُورًا
“Dialah
yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan
rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar
Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi
minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak
dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di
antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan
manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat)”
[QS. Al-Furqaan : 48-50].
Juga
firman Allah tabaaraka wa ta’ala :
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا
بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ * وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ *
رِزْقًا لِلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ
الْخُرُوجُ
“Dan
Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan
air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam[6], dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang
mempunyai mayang yang bersusun-susun, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang
mempunyai mayang yang bersusun-susun. untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba
(Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti
itulah terjadinya kebangkitan.” [QS.
Qaaf : 9-11].
Allah
ta’ala menyebutkan hujan sebagai kebersihan dan rahmat, sebagaimana telah
lalu penjelasannya. Allah juga menamainya dengan rizki, berdasarkan firman-Nya
:
وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا
بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا
“Dan
rizki yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu
bumi sesudah matinya”
[QS. Al-Jaatsiyyah : 5].
Al-Imam
Al-Baghawiy rahimahullah berkata :
يعني الغيث الذي هو سبب أرزاق العباد.
“Yaitu
hujan yang merupakan sebab diberikannya rizki seorang hamba”.[7]
Berdasarkan
penjelasan mengenai manfaat hujan dan kebaikan yang banyak darinya, maka hujan
adalah sesuatu yang diberkahi (mubaarak).
Disyari’atkannya
shalat istisqaa’ ketika terjadi kekeringan dan lama tidak turun hujan,
sebagaimana hal itu telah diketahui.
Hal
yang Disyari’atkan Ketika Hujan Turun
Disyari’atkan
ketika hujan turun untuk mengucapkan :
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّباً نَافِعاً.
“Ya
Allah, jadikanlah hujan yang bermanfaat”.
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhariy.[8]
Juga
hendaknya ia mengucapkan :
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ
“Kita
diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah”.
Doa
ini berdasarkan hadits yang terdapat dalam Shahiihain, bahwasannya
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para
shahabatnya pada suatu hari yang malam harinya diguyur hujan :
(هل تدرون ماذا قال ربكم). قالوا: الله
ورسوله أعلم، قال: (أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر، فأما من قال: مطرنا بفضل الله
ورحمته، فذلك مؤمن بي كافر بالكواكب، وأما من قال: بنوء كذا وكذا، فذلك كافر بي
مؤمن بالكواكب).
“Apakah
kalian tahu apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian ?”.
Para shahabat menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah telah berfirman :
‘Pagi hari ini ada di antara hambaku yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang
kafir. Adapun yang berkata : ‘Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’
; maka ia telah beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang. Adapun
yang berkata : ‘Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu’ ; maka ia telah
kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang”.[9]
Disunnahkan
untuk berhujan-hujan saat turun hujan dan mengeluarkan kendaraan dan bajunya
akan terkena hujan.
Perbuatan
tersebut didasarkan oleh hadits yang terdapat pada Shahiihain, dari Anas
bin Maalik radliyallaahu ‘anhu dalam istisqaa’-nya Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam di hari Jum’at. Dalam hadits itu
disebutkan :
ثم لم ينزل عن منبره حتى رأيت المطر يتحادر على
لحيته.
“Kemudian,
beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam belum lagi turun dari minbar, aku
melihat hujan telah membasahi jenggot beliau”.[10]
Juga
hadits yang terdapat dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik
radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :
أصابنا ونحن مع رسول الله صلى الله عليه وسلم مطر. قال : حسر
رسول الله صلى الله عليه وسلم ثوبه حتى أصابه المطر فقلنا يا رسول الله لم صنعت
هذا؟ قال: لأنه حديث عهد بربه
“Kami
pernah diguyur hujan bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyingkap[11] pakaiannya hingga terkena hujan. Kami
pun bertanya kepada beliau : ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan itu ?’.
Beliau menjawab : ‘Karena hujan baru saja diturunkan oleh Rabb-nya”.[12]
Al-Imam
Al-Bukhariy meriwayatkan dalam kitab Al-Adabul-Mufrad, bahwasannya Ibnu
‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma apabila turun hujan dari langit, ia berkata
:
يا جارية، أخرجي سرجي، أخرجي ثيابي. ويقول : (وَنَزَّلْنَا مِنَ
السَّمَاءِ َ مَاءً مُبَارَكاً).
“Wahai
pelayan, keluarkanlah pelanaku dan pakaianku”. Kemudian ia (Ibnu ‘Abbas) membaca
ayat : “Dan Kami turunkan dari langit air yang dibekahi”.[13]
[selesai
– diambil dari buku At-Tabarruk, Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu oleh Dr. Naashir
bin ‘Abdirrahman bin Muhammad Al-Juda’iy, hal. 183-186; Maktabah Ar-Rusyd, Cet.
Thn. 1411 H, Riyadl – Abul-Jauzaa’, 21 Ramadlan 1430 H].
Tambahan
:
Hendaknya
seseorang tidak menolak turunnya hujan, sebab hujan adalah berkah. Jika pun itu
ia ingin lakukan, maka yang disunnahkan adalah berdoa kepada Allah ta’ala
agar hujan dialihkan ke tempat lain yang membutuhkan, sebagaimana doa Nabi
shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى
الآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ
الشَّجَرِ.
“Ya
Allah, berikanlah hujan di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya Allah,
berikanlah hujan ke daratan tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah, dan
beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan”.[14]
سمي المطر بركة السماء لثبوت البركة فيه وكذا ثبوت البركة في
نابت الأرض لأنه نشأ عن بركات السماء وهي المطر
“Hujan
dinamakan sebagai berkah dari langit karenanya keberadaan berkah padanya. Begitu
juga keberkahan yang yang ada pada tumbuh-tumbuhan di bumi karena tumbuh dari
berkah yang datang dari langit, yaitu hujan”.
[5]
Yaitu : Kamu menggembalakan ternak-ternakmu di sana, di antaranya : onta
gembalaan (al-ibilus-saaimah). Lafadh as-suum artinya adalah
penggembalaan. Lihat Tafsir Ibni Katsiir 2/565.
[6]
Yaitu : gandum, sya’iir, dan biji-bijian yang dapat diketam. Diambil dari
Tafsir Al-Baghawiy 4/221.
[9]
Shahih Al-Bukhariy 2/23, Kitaabul-Istisqaa’, Baab Qaulillaahi ta’ala :
Wa Taj’aluuna Rizqakum Annakum Tukadzdzibuun (QS. Al-Waqi’ah : 82); dan
Shahih Muslim 1/83, Kitaabul-Iimaan, Baab Bayaani Kufri Man Qaala
Muthirnaa bin-Nau’. Keduanya berasal dari riwayat Zaid bin Khaalid
Al-Juhhaniy radliyallaahu ‘anhu.
[10]
Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dalam Shahih-nya 2/22,
Kitaabul-Istisqaa’, Baab Tamathara fil-Mathari Hattaa Yatahaadara ‘alaihi
Lihyatihi ; dan Muslim dalam Shahih-nya 2/612, Kitaabul-Istisqaa’,
Baab Ad-Du’aa’i fil-Istisqaa’. Ini adalah lafadh Al-Bukhariy.
Dishahihkan
oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil-Mufrad hal. 476 –
Abul-Jauzaa’.
[14]
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1013, Muslim 897, Ibnu Khuzaimah no. 1778, Abu
Ya’laa no. 3334 & 3509, Ibnu Hibban no. 2858-2859, dan yang lainnya.-
Abul-Jauzaa’.
0 comments:
Post a Comment