Seorang tokoh memberikan sebuah kisah simbolik (permisalan) yang
cukup menarik. Dan ini merupakan kisah favorit saya semenjak beberapa tahun yang
lalu (yang saya baca dari sebuah buku yang saya beli di Gunung Agung, Bogor).
Saya lihat, satu dua blog telah mengutipnya, namun tidak apalah saya ulangi di
sini untuk satu faedah.
Kisah ini adalah kisah seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga
kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah
ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang
telah disediakan di puncak bukit di tengah kota. Seluruh warga kota pun memahami
benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk
melaksanakannya.
Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas
suatu cara untuk mengelak,”Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan
madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan
mata seseorang. Sesendok air pun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan
diisi madu oleh seluruh warga kota”.
Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa yang kemudian terjadi ? Seluruh
bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya, semua warga kota berpikiran sama
dengan si A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil
membebaskan dii dari tanggung jawab. [selesai]
Kisah simbolik ini dapat terjadi, dan bahkan mungkin terjadi telah
terjadi. Banyak orang di antara kita selalu mengandalkan kerja dan usaha orang
lain. Sementara itu, kita hanya duduk termangu menunggu hasil. Kita ingin
perubahan menuju kebaikan, namun tidak sepeserpun saham kita ikut andil dalam
mewujudkannya. Kita sangat senang menuntut orang lain melakukan sesuatu sesuai
keinginan kita. Bahkan seringkali kita memaksakannya. Namun jika kita bercermin
balik,.... apa yang telah kita lakukan ? Ada atau tidak ada ?
Perubahan menuju kemajuan dan perbaikan mustahil diwujudkan melalui asas
’menggantungkan diri’ kepada yang lainnya. Allah telah berfirman :
إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا
مَا بِأَنْفُسِهِمْ
”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri” [QS. Ar-Ra’d : 11].
Pada ayat di atas Allah telah menegaskan bahwa perubahan itu hanya
berlaku jika ada ikhtiyar dari orang yang bersangkutan. Allah tidak berfirman :
”sehingga orang lain mengubah keadaan yang ada pada diri mereka”.
Islam sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk produktif. Apa yang
telah kita berikan pada Islam ? Apa yang telah kita berikan pada dakwah ? Apa
yang telah kita berikan pada kaum muslimin ? Jika ilmu kita sedikit, harta kita minim,... sumbangan tenaga atau
pikiran pun masih membuka peluang kita untuk berpartisipasi. Jika itu pun tidak
bisa kita lakukan, bermuamalah dan memperlihatkan akhlaq yang baik kepada
masyarakat sudah merupakan investasi penting untuk memberikan citra yang baik
bagi dakwah salaf – yang sering rusak oleh perilaku segelintir manusia.
Mulailah pada diri kita (dan keluarga kita) !! Sekarang juga
!!
Semoga bermanfaat.
0 comments:
Post a Comment